Tag Archives: a thought

Just A Thought

20 oktober 2013

Sekarang, habis ashar di kamar kos Gang Durmo no. 10 A.

Aku cuma mau mengutarakan apa yang ada di pikiranku sekarang. Gak yang macem-macem, just a thought.

Aku masi ingat—ya iyalah—12 desember 2012 pukul sekitar 20.00 WIBan aku menempatkan diriku buat jadi milik kamu, walaupun belum sepenuhnya. Kepercayaan aku masih belum tumbuh, masih di tanam. Masih rasanya ngawang. Aku belum tahu kamu, aku masih meraba-raba.

Berhari-hari, masih dalam gelutan. Walaupun bukan gelutan yang besar—bayar hutang, pajak, sekolah anak, blablabla—aku merasa diuji. Aku punya teman-teman, aku punya keluarga, aku punya kamu. Tapi dulu semua belum aku sadari sepenuhnya. Sampai akhirnya aku ditampar. Blufff, semua langsung masuk ke otakku dan rasanya mau muntah. Isinya terlalu banyak, aku sampai gak bisa nentuin mana dulu yang harus kupikirkan, sampai akhirnya, mandeg. Dan aku merasakan ada yang hilang—suara-suara.

Mulai berjalan lagi, bulan ke bulan. Aku mulai merapat, merapat ke kamu. Merapat ke Ibuku dan keluargaku. Dimana semuanya tersedia secara gamblang, yang sudah aku sadari. Aku mencintai kamu, ibuku, teman-temanku, keramaian—dan itulah tujuan hidupku.

Aku mulai merasakan masa depan itu bukan “masih lama”, tapi setiap detik—setiap saat, semua terus berjalan. Yang bisa aku lakukan adalah melakukan yang terbaik dan berdoa: semoga semua yang kulakukan bukan hal yang sia-sia begitu aja. Tujuan setiap langkah yang aku ambil tetap sama, keramaian.

Apa sih.

Bisa dibilang aku memang suka memikirkan hal yang terlampau jauh, belum terjadi tapi sudah dipikirkan, kadang berlebihan. Hasilnya? Galau.

Siapa yang bisa mendengarkan? Hanya ibuku, dan—aku harap—kamu.

Aku sendiri bingung, ini aku lagi ngomongin apa sih? Gak ada, just a thought, I’ve said that before.

 

**

 

Aku mau keramaian, aku mau suasana tempat tinggal yang nyaman, aku mau beratap yang sama dengan orang-orang yang kucintai dan paling nyaman untuk aku sandar. Aku sayang dengan teman-temanku, tapi gak bisa selamanya aku memaksa mereka untuk terus berada di hidupku, mereka juga punya buku yang harus mereka tulis sendiri. Aku? Ya, harus menulis sendiri juga, tapi tetap saja aku butuh individu untuk membantuku menulis bab baru. Siapapun, yang berperan dalam hidupku.

 

**

 

Sekarang, 20 Oktober 2013.

Sumber keramaian pada saat ini hanya bunyi kipas angin yang dengan susah payah mendinginkan ruangan dan sayup-sayup tawa pada percakapan kamar sebelah dengan temannya yang berkunjung. Aku tahu ini tidak abadi, keramaian yang pasti akan pudar atau bertambah. Keramaian yang bisa memberikan kenyamanan atau stress. Aku menyukai semuanya, at least, I’m not the only one in here.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin menghargai dan mencintai keramaian. Sekali lagi, karena apapun itu, tidak akan abadi. Jaid aku menikmati apapun yang aku dengar, aku rasakan, aku lakukan sekarang—walaupun masih banyak hal yang jauh lebih penting yang seharusnya aku pikirkan. Kamu mengisi keramaianku. Walaupun bukan sepenuhnya.

Dan aku harap, selanjutnya bisa meraih keramaian yang jauh lebih berharga, jauh lebih emosional.

Menjadi keluarga, teman, kekasih, apapun itu. Mengisi keramaian yang sudah aku punya sebelumnya. Yang pasti, aku tidak mau sampai aku menggantikan apa yang aku punya menjadi kamu seseorang. Aku mau kamu menjadi satu dengan mereka, orang-orang yang kusayangi, salau satu dari keramaianku.

_

 

 

 

Aku ingin menjadi berharga buat kamu, selayaknya kamu yang berharga buatku.

Advertisements
Tagged ,